Keseimbangan Hidup Bagi Mike Lewis

Bagi Mike Lewis, kehidupan kini semuanya tentang keseimbangan. Antara selalu ada untuk putranya, melanjutkan aspirasi bisnis keuangannya di Singapura, juga menjaga kehadirannya di industri hiburan Indonesia sambil menunggu sebuah peran film yang cocok.

Mike Sebagai Seorang Entertainer

15 tahun berkiprah di industri hiburan Indonesia, Mike Lewis dikenal sebagai seorang entertainer berkebangsaan asing yang wajahnya kerap menghiasi layar lebar maupun layar kaca. Meskipun demikian, tidak semua orang mengetahui perjalanan karier pria tampan satu ini, kesenangannya dengan buku dan kata-kata, juga kesehariannya yang penuh cinta untuk sang buah hati.

Mike Lewis pertama kali memasuki dunia hiburan pada saat dirinya berumur 13 tahun. Permulaannya sebagai model sudah membuat Mike menyambangi berbagai negara seperti Bangkok, New York, Montreal, Hong Kong, hingga Beijing. Mike akhirnya tinggal di Jakarta bersama keluarga setelah ayahnya yang bekerja di kedutaan ditugaskan di sini. Mike pun melanjutkan passionnya sebagai model di Jakarta di sela-sela kesibukannya berkuliah di negara asal, Kanada.

Aktor berdarah Kanada-Malaysia ini mengaku jatuh cinta dengan Indonesia sejak pertama kali menginjakkan kaki. Bagi Mike, kebudayaan yang hangat dan makanan yang lezat adalah daya tarik utama Indonesia. Jakarta adalah kota yang besar dan begitu hidup, banyak hal yang “ajaib” dan bisa dieksplorasi di sini. Misalnya saja budaya “oleh-oleh” yang sempat mengejutkan Mike karena dirinya merasa berubah menjadi Santa Claus setiap kali pergi jauh dan kembali lagi ke Indonesia dengan membeli oleh-oleh.

Dewi Fortuna mulai benar-benar memihak Mike Lewis pada tahun 2006 ketika dia mendapatkan peran di film horor lokal berjudul Suster Ngesot dan mendapatkan peran di sinetron Cinta Fitri setelahnya. Kesibukan Mike di dunia entertainment ini merupakan apa yang dia nikmati karena menjadi seorang entertainer, tepatnya aktor, sudah menjadi cita-cita Mike sejak kecil.

Namun ternyata, dulu Mike Lewis juga sempat memiliki cita-cita yang lain. Di antaranya yaitu menjadi seorang atlet, pemain Rugby profesional, hingga duta merek. Mike belum sempat memikirkan alternatif selain hal-hal yang disukainya itu karena dia terlalu sibuk untuk mewujudkannya. Yang sama-sama kita ketahui sekarang, salah satu cita-cita Mike itu telah terwujud.

Belum lama kemarin, Mike Lewis bahkan turut menyukseskan salah satu film aksi Indonesia yang gemilang berjudul FOXTROT SIX. Pembuatan film yang kurang lebih mengalami proses kreatif selama 7 tahun ini adalah satu dari sekian film yang paling berkesan di hati Mike selama jejak kariernya. Bagi Mike, FOXTROT SIX bukan sekadar film; ia adalah rumah bagi keluarga baru yang terdiri dari teman-temannya. Oleh karena itu lah Mike berharap banyak orang dapat menjadi saksi untuk hasil produksi film aksi lokal terbaik ini.

Mike Lewis mengakui jika dirinya memang paling menyukai film bergenre aksi. Kesenangannya membuat orang lain tertawa juga membuatnya berpikir bahwa mendapatkan peran di film yang memadukan genre aksi dan komedi akan menjadi sebuah mimpi yang ingin dia wujudkan suatu hari nanti.

Mike pun merasa bersyukur akan kesanggupannya bertahan di dunia hiburan untuk waktu yang lama walaupun cobaan kian datang menerpa. Dunia entertainment di Indonesia yang banyak mengalami perubahan, menurut kacamata Mike Lewis, juga mengarah pada banyak hal positif jika dilihat dari semakin banyaknya film-film lokal berkualitas yang dibuat dan meningkatnya minat masyarakat terhadap film.

Kini, sembari menunggu judul film yang benar-benar cocok dengannya, Mike Lewis tengah sibuk menjadi host di CNA Asia; sebuah program dokumenter traveling mewah yang juga telah membawanya menjelajah ke banyak tempat di dunia. Program ini juga dijalaninya dengan penuh suka cita lantaran membuatnya bisa menunjukkan kepribadian dirinya yang belum banyak diketahui orang: ketertarikannya pada makanan, kreativitasnya membuat konten, kata-kata, juga pribadi hangat Mike Lewis sebagai seorang ayah.

Mike Sebagai Seorang Ayah

Menjadi seorang bintang sudah pasti memberikan kesibukan yang lebih. Namun bagi Mike, hal tersebut bukanlah alasan untuk tidak memberikan perhatian penuh pada putra tercintanya. Delapan tahun ini benar-benar dimanfaatkan Mike Lewis untuk menikmati waktunya sebagai seorang ayah walaupun kesibukan kerap memisahkan mereka.

Ketika ditanya mengenai harapannya pada sang buah hati, Mike hanya ingin anaknya bisa benar-benar menikmati masa kanak-kanak dan tidak terlibat dalam masalah-masalah orang dewasa sebelum waktunya. Mike tidak ingin anaknya sudah disibukkan dengan dunia pekerjaan seperti syuting di usia sebelia ini. Ini adalah waktu sang anak tumbuh dan berkembang dengan baik, dikelilingi orang-orang yang mencintainya.

Membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga bisa dibilang cukup sulit, tapi Mike sudah dan akan terus melakukan yang terbaik yang dia bisa. Apalagi dengan canggihnya teknologi yang ada saat ini, Mike bisa “meraih” anaknya kapan pun dan dimana pun dia mau meskipun menghabiskan waktu liburan bersama anak tetap merupakan yang terbaik.

Tempat liburan favorit Mike Lewis adalah kepulauan Maladewa. Mike berharap suatu saat bisa kembali lagi ke sana atau mengunjungi tempat lain yang sangat ingin dikunjunginya seperti Istanbul dan Cape Town. Budaya, sejarah, dan keindahan kedua tempat tersebut adalah alasan utama Mike sangat ingin pergi ke tempat-tempat ini bersama orang yang dia cintai.

Selain berlibur bersama anak, membaca dan menulis buku juga merupakan apa yang disenangi Mike Lewis. Sejak kecil dirinya memang suka membaca, buku favoritnya adalah Gates of Fire karya Steven Pressfield. Kini, bacaannya lebih banyak diisi oleh buku-buku non fiksi seperti buku psikologi modern karya Malcolm Gladwell atau Jordan Peterson. Mike bahkan juga menyukai dunia tulis-menulis. Tulisan Mike mencakup segala hal yang terjadi di kehidupannya. Mike beranggapan bahwa tulisan adalah salah satu media terbaik untuknya berbagi kenangan bersama sang buah hati—terutama jika putranya membaca tulisan-tulisan Mike saat ia besar nanti.

Sebagai tambahan, sesuatu yang mungkin tidak dikira banyak orang adalah hobi memasak Mike untuk orang-orang yang dia cintai. Di keluarga, ini adalah salah satu cara ibunya menunjukkan cinta, dan Mike ingin menunjukkan itu pada putranya.

Bagaimanapun, benar-benar meluangkan waktu untuk anak adalah apa yang sangat disarankan oleh Mike Lewis pada para ayah atau orangtua di luar sana.

“Kalau kamu punya waktu untuk anak-anakmu, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya. Waktu kebersamaan itu berharga untukmu dan anakmu. Saya berharap bisa punya lebih banyak waktu.”

Cover Story Mike Lewis dan bintang-bintang beken lainnya ini bisa Anda simak secara lebih eksklusif di majalah Network! yang bisa Anda unduh di sini.

Dewi Sandra, Proses Hijrah yang Tiada Henti

Bagi seorang Dewi Sandra, segala hal di dunia ini bisa menjadi alat komunikasi Sang Pencipta kepada umat-Nya. Semuanya merupakan inspirasi yang menuntun Dewi untuk meraih segala yang terbaik dalam kehidupan, di dunia maupun di akhirat.

Indonesia mengenal Dewi Sandra sebagai seorang artis yang berbakat, entah itu dalam seni peran, seni suara, hingga mempresentasikan sebuah acara. Jika mengikuti perkembangan karier wanita ini sejak awal, Anda pasti setuju jika penampilan Dewi saat ini bisa dibilang sangat berbeda dengan dirinya pada masa lalu.

Dewi Sandra mungkin adalah seseorang yang akan membantah jika Anda mengatakan dia “sudah” berhijrah, karena dirinya belum selesai melakukan hijrah. Manusia pada hakikatnya harus terus tumbuh dan belajar untuk membuat diri menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itulah bagi Dewi hijrah merupakan sebuah proses yang tiada henti. Namun, proses mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa ini merupakan sesuatu yang Dewi nikmati.

Salah satu wujud nyata yang paling menginspirasi Dewi Sandra dalam hidupnya adalah ketika dia bermain dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa, seperti ketika dia menemukan sebuah lukisan Bunda Maria di Museum Louvre, Paris yang di bawahnya terdapat tulisan Arab kecil yang menyebut nama Allah. Selain itu, perjalanannya ke Spanyol belum lama ini juga memberikan beberapa wawasan baru soal sejarah islam yang membuat Dewi tergerak untuk melihat sesuatu dari kacamata yang lebih luas lagi.

Kehadiran suami yang juga sangat menyukai kesederhanaan seperti halnya Dewi Sandra juga merupakan apa yang Dewi syukuri. Misalnya saja dengan kurma atau buah-buahan yang lebih mereka pilih sebagai menu sahur di bulan Ramadan. Menu buka puasa pun juga seadanya saja. Dewi yang sebenarnya lebih suka memasak makanan ala Barat yang simpel dan suaminya yang lebih menyukai cita rasa masakan Indonesia seperti Sayur Asem dan Jengkol pun berhasil menyelaraskan selera dan harmonis sebagai pasangan.

Kegiatan pengisi waktu senggang versi Dewi Sandra kini adalah membaca, terutama membaca Al-Quran yang selalu berhasil memberikannya rasa takjub dan ketenangan. Semua yang membentuk dirinya kini, ungkap Dewi, tentu tidak bisa dilepaskan dari karier di dunia entertainment yang telah memberikan banyak pelajaran hidup dengan praktek langsung–terlepas dari buku pelajaran.

Simak Cover Story edisi bulan Mei kami selengkapnya di E-Magazine yang bisa Anda unduh di sini.

Ijonk – Dulu & Sekarang

Jika berbicara tentang cinta dan hubungan asmara, pemain sinetron pasti selalu mempunyai setidaknya satu atau dua cerita mengenai percintaan yang menarik untuk diceritakan, entah yang berasal dari skenario peran yang dimainkan atau kehidupan pribadi mereka sendiri.

Memulai kariernya dengan mengikuti pemilihan model sampul sebuah majalah, aktor tampan kelahiran tahun 1982 di Pematang Siantar ini kerap memainkan banyak judul film dan sinetron yang salah satunya mungkin pernah Anda tonton. Di salah satu stasiun televisi swasta, Anda bisa melihat bakat akting Jonathan Frizzy di sebuah sinetron yang masih tayang sampai sekarang sejak ditayangkan pada tahun 2018 lalu. Sinetron bertajuk Cinta yang Hilang ini bercerita tentang cinta dan bagaimana pengkhianatan bisa terjadi di antaranya.

Selain Cinta yang Lain, beberapa judul sinetron yang membuat masyarakat akrab dengan wajahnya yaitu Ganteng-Ganteng Serigala, Benci Jadi Cinta, hingga Andre-Andre Lumut. Pengalaman terunik yang dibagikan Ijonk (panggilan akrabnya) selama berkarier di dunia seni peran adalah ketika dia harus didandani menyerupai wanita–menggunakan make-up, pakaian wanita, hingga berlagak seperti wanita–bersama rekannya, Andre Taulany. Hal tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan lantaran perannya sebagai wanita di sini justru menghantarkan dirinya memenangkan penghargaan.

Dengan banyaknya judul sinetron dan film yang dimainkannya tersebut, tidak heran jika Ijonk juga sudah akrab sekali dengan genre romansa. Ketika ditanya mengenai pendapatnya soal film-film romansa masa kini, dia mengungkapkan jika apreasiasi patut diberikan karena industri perfilman sekarang sudah lebih kreatif, entah dari ide cerita maupun dari pengambilan gambar. Meskipun demikian, Ijonk mengungkapkan kecintaannya terhadap film-film romansa zaman dahulu yang menurutnya tetap tidak terkalahkan keistimewaan jalan ceritanya.

Keinginan Masa Dulu dan Sekarang

Menikmati pekerjaan yang sekarang bukan berarti jika hal yang dilakukan saat ini sudah pasti merupakan apa yang diinginkan atau dicita-citakan sejak dulu. Tahukah Anda jika seorang Jonathan sempat bercita-cita menjadi seorang astronot? Hal yang mendasari cita-citanya itu adalah keinginan untuk melihat dunia, bumi, atau luar angkasa dari jauh. Cita-cita yang tidak kesampaian itu tidak lantas membunuh harapan Jonathan untuk melihat dunia, nyatanya dia pun kini melihat dunia meski dengan cara yang berbeda yaitu melalui lensa seorang bintang film. Di tapak tilas yang dilaluinya kini, yang menjadi keinginan Jonathan adalah bisa berperan seperti di dalam film yang sangat disukainya. Jika bisa memilih dari sekian judul film romansa yang sangat ingin diperankannya–film lama atau pun film baru, Jonathan memilih film Serendipity. Alasannya adalah karena film asal luar negeri tersebut cukup berperan dalam pengalaman hidupnya.

Saat ini, kesibukkan Jonathan masih berada di seputar dunia seni peran, walau dia juga mulai mengantisipasi kesibukan baru karena akan segera terjun ke dunia politik. Jonathan juga senang sekali menghabiskan waktu untuk hal-hal yang disukainya di waktu senggang seperti menonton film, Youtube, jalan-jalan, bermain basket, bermain game, dan terutama bermain bersama anak-anaknya. Kebahagiaan ayah dari tiga orang anak ini bisa dilihat dari halaman akun Instagramnya @ijonkfrizzy yang turut menjadi rekam jejak keharmonisan keluarga kecilnya bersama sang istri, Dhena Devanka. Ketika ditanya mengenai penting atau tidaknya mengunggah foto di media sosial sebagai seorang entertainer, Jonathan yang mengaku lebih memiliki kepribadian introver mengatakan jika dia lebih suka tidak mengumbar kemesraan, kecuali sebagai keluarga bahagia bersama tiga buah hati yang sangat dicintainya.

Keromantisan yang Nyata

Kebahagiaan Jonathan Frizzy bersama keluarganya berawal dari keputusan Jonathan untuk meminang Dhena Devanka menjadi istrinya. Sebuah romansa yang berawal dari cinta pada pandangan pertama ini tentu merupakan wujud nyata dari kisah-kisah romantis yang sebelumnya dia mainkan di dalam film. Jonathan yang pada mulanya sama sekali tidak mempercayai cinta pada pandangan pertama harus menelan ludahnya sendiri ketika dia bertemu dengan Dhena untuk pertama kali. Pasalnya, wanita yang kini menjadi istrinya itu telah mencuri perhatiannya sejak menit pertama.

Lalu apakah pasangan romantis ini juga turut merayakan Valentine yang jatuh pada setiap bulan Februari? Jawabannya adalah ya, dan tidak. Sehubungan dengan ulang tahun orangtua Jonathan yang jatuh pada hari yang bertepatan dengan Valentine, dia dan istri lebih sering merayakan hari tersebut dengan merayakan ulangtahun orangtua Jonathan. Walaupun begitu, Jonathan mengungkapkan jika dia dan istri juga senang dengan perayaan hari kasih sayang dan mulai mencoba untuk lebih meromantisasi hari tersebut bersama pasangan juga.

Selain tetap mempertahankan keromantisan dengan pasangan, komunikasi dan kepercayaan yang kuat terhadap satu sama lain menurut Jonathan Frizzy adalah kunci utama kelanggengan dan keharmonisan sebuah hubungan. Pernikahan yang terhitung sejak tahun 2012 silam atau sudah mencapai tujuh tahun usia ini pun bertambah lengkap dengan kehadiran anak-anak yang lucu: Zoe Joanna Frizzy Simanjuntak, Zack Jaden Frizzy Simanjuntak, dan Zayn Jowden Frizzy Simanjuntak. Meskipun kisah cinta mereka tidak semulus kisah di dongeng-dongeng, kebahagian yang tampak di wajah mereka saat bersama-sama tentu masuk ke dalam kategori happily ever after yang bisa kita lihat di dunia nyata.

Mimpi Aulia Sarah yang Menjadi Nyata

Menapaki jejak karir seorang Aulia Sarah tidak lepas dari kesempatan yang dia dapat untuk menjadi finalis kompetisi Gadis Sampul pada tahun 2005. Sejak itu Aulia pun mendapatkan peran di beberapa film seperti Kawin Kontrak, Drop Out, dan untuk pertama kalinya mendapatkan peran utama di film berjudul Punk in Love sebagai Almira pada tahun 2009. Kini, wanita cantik ini juga masih sibuk dengan syuting FTV dan peluncuran Filosopi Kopi The Series.

Kesuksesan yang Aulia Sarah dapat di dunia hiburan ini bisa dibilang merupakan mimpi yang menjadi nyata. Pasalnya, sejak kecil dia memang sudah bercita-cita menjadi seorang bintang dan dikenal banyak orang. Aulia kecil sering sekali mendapati dirinya mematut bayangan sendiri di depan cermin layaknya seorang model. Sekarang, wajahnya bisa kita lihat di mana-mana: majalah, layar kaca hingga layar lebar.

Selain karena merupakan mimpi masa kecil, hal yang paling Aulia Sarah senangi dalam menjadi seorang entertainer adalah fakta bahwa dia bisa belajar banyak di sini. Dengan bertemu banyak orang baru di dunia entertainment, gadis cantik yang akrab dipanggil Aul ini mengaku dapat memperluas pergaulan dan menambah wawasannya.

Tantangan di dunia entertainment bagi Aulia Sarah adalah ketika dia mendapatkan peran yang berbeda dari biasanya. Setiap mendapatkan tawaran peran, memang selalu ada saja karakter yang unik dan tentunya berbeda satu sama lain. Belum lagi dengan persaingan di dunia entertainment yang tidak mudah dan adanya casting serta audisi yang harus dijalani untuk mendapatkan peran. Hal-hal inilah yang membuat Aulia menganggap pekerjaannya ini begitu menantang sekaligus mengasyikkan.

Bersikap profesional dan menunjukkan kemampuannya yang terbaik adalah hal yang terus dilakukan oleh bintang seperti Aulia Sarah. Misalnya saja ketika dia harus berperan dalam sebuah film komedi yang notabene bukan keahliannya untuk melucu. Meskipun demikian, Aulia Sarah mengungkapkan jika proses syuting film bertajuk Siap Gan! yang rilis pada pertengahan tahun 2018 ini berjalan dengan lancar dan merupakan suatu pengalaman seru baginya.

Di sela-sela kesibukannya, travelling dan wisata kuliner adalah hobi wanita berparas khas Indonesia ini. Dari unggahan di Instagram @owliasarah, bisa dilihat ada cukup banyak potret dirinya dalam momen-momen travelling. Tapi, bukan belanja atau sekadar keindahan tempat yang Aulia incar, melainkan kulinernya. Kecintaannya pada makanan membuatnya merasa harus mencoba makanan lezat di setiap tempat tujuan wisata yang dia kunjungi.

Dalam wawancaranya bersama Network!, Aulia Sarah pun menceritakan pengalaman travelling-nya yang paling berkesan dan tidak terlupakan, yaitu ketika dia untuk pertama kalinya pergi ke Hong Kong untuk berlibur bersama seorang teman. Aulia yang tidak mengerti bahasa Tiongkok sempat merasa frustasi karena tidak banyak orang sana yang fasih atau mengerti bahasa Inggris. Akibatnya, dia cukup kesulitan menemukan jalan karena baru pertama kali ke sana dan tidak ada yang bisa menunjukkan jalan dalam bahasa Inggris. Hingga akhirnya dia bertemu dengan segerombolan orang Indonesia yang kebetulan tinggal di sana. Perasaan lega bertemu dengan orang-orang yang bisa menunjukkan jalan yang dia cari dan rasa takjub karena orang-orang itu pun ternyata mengenalinya sebagai Aulia Sarah bahkan di luar negeri seperti Hong Kong membuat perjalanannya itu menjadi sangat tidak terlupakan.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Eriska Rein

Eriska Rein tambah melejit namanya setelah membintangi salah satu film yang cukup fenomenal di Indonesia: A Man Called Ahok. Film yang beredar di seluruh bioskop Indonesia sejak awal November 2018 ini memang mendulang kesuksesan lantaran banyak sekali yang penasaran dengan cerita di balik tokoh Ahok. Selain itu, para aktor yang membintangi film ini pun terbukti mencurahkan kemampuan terbaiknya sehingga menjadikan film ini banjir pujian, salah satu dari deretan aktor dan aktris itu tentu saja Eriska Rein.

Wanita cantik ini sukses memerankan tokoh ibunda Ahok di masa muda yaitu ibu Budiarti Ningsih. Pertama kalinya memerankan tokoh dalam film yang berdasarkan kisah nyata, Eriska Rein mengaku jika dia merasa sangat senang dan bersyukur telah diberikan kesempatan ini. Baginya, ada tantangan tersendiri ketika dia harus meniru dan memposisikan diri sebagai seseorang yang benar-benar ada di kehidupan nyata, apalagi dia juga pernah bertemu dengan sosok aslinya.

Sebelum proses syuting berlangsung, Eriska memang sempat dipertemukan dengan sosok asli tokoh yang dia perankan di Belitung. Di sinilah Eriska belajar dan lebih mendalami perannya dengan cara memperhatikan segala yang ada pada ibu Budiarti Ningsih. Kini, setelah filmnya keluar di pasaran, pujian pun tertuju pada dirinya ketika Eriska kembali membuktikan bakat seni perannya pada dunia.

Sebelumnya, wanita yang lahir di Tangerang pada 24 tahun silam ini juga sudah memerankan cukup banyak film layar lebar, sinetron, dan FTV. Sebut saja Negeri 5 Menara di tahun 2012 dan Cinta Brontosaurus di tahun 2013. Kecantikan unik yang dia miliki pun kerap kali menghiasi layar kaca sebagai bintang iklan. Semuanya bermula setelah dia berhasil memenangkan pemilihan model sampul di majalah Kawanku sebagai juara pertama.

Eriska Rein mengungkapkan jika kariernya di dunia hiburan ini memang merupakan cita-citanya sejak kecil dulu walaupun dia juga sempat bercita-cita menjadi seorang pramugari. Sejak kecil, Eriska sudah menunjukkan minat dan bakatnya menjadi entertainer pada keluarga dan orang-orang terdekat. Dan dengan keluarga—terutama ibu—yang sangat mendukung bakat ini, Eriska Rein pun sukses meraih mimpinya menjadi seorang bintang.

Sedikit tips yang dibagikan Eriska untuk siapa pun yang sedang dalam perjalanan mewujudkan mimpi adalah sungguh-sungguh dan tidak pernah putus asa. Jangan pernah ragu untuk bertanya dan banyak belajar dari pengalaman dengan yang lainnya juga merupakan sebuah kunci. Eriska sendiri mengaku sangat senang bisa kenal dan bertemu dengan banyak sekali orang baru dalam pekerjaan yang dia geluti kini.

Dalam wawancara khusus bersama Network!, Eriska Rein juga sempat menceritakan pengalaman di dunia entertainment yang paling menantang baginya, yaitu ketika dia mengikuti sebuah pentas teater untuk pertama kalinya. Mengambil peran dalam pertunjukan teater musikal berjudul Bawang Merah Bawang Putih ini menuntutnya untuk bisa berakting sekaligus bernyanyi dan menari, serta ditonton langsung oleh banyak sekali orang. Pengalaman yang tidak terlupakan ini tentu saja merupakan satu dari sekian tantangan yang memberikan kesan mendalam bagi Eriska.

Saat ini, selain menjadi ibu rumah tangga dan menjadi seorang entertainer, Eriska Rein juga disibukkan dengan bisnis yang dia rintis. Ada bisnis baju bernama Tacqueen dan bisnis makanan camilan Banana Chips yang dinamakan Reinana. Untuk selanjutnya, Eriska Rein mengatakan bahwa dia ingin sekali mencoba berperan dalam film bergenre aksi.

Cerita di Balik 4 Bintang di Sampul Majalah Network! Januari 2019

Menjadi bintang tidak selalu berarti muncul di layar kaca atau media, tapi bagaimana bisa dikenal banyak orang sebagai pribadi yang menginspirasi, seperti halnya keempat bintang yang menjadi sampul majalah Network! edisi kali ini.

Sahila Hisyam, Eriska Rein, Aulia Sarah, dan Enzy Storia bisa dibilang merupakan wajah-wajah segar di dunia entertainment yang patut diperhitungkan lantaran sudah banyak muncul di berbagai film layar lebar dan televisi. Meskipun demikian, bukan itu satu-satunya alasan yang membuat Network! memilih mereka sebagai penghias sampul edisi kali ini, tapi bagaimana mereka menjadi figur publik yang menginspirasi dari awal memulai perjalanan karier hingga berada pada posisi saat ini.

Network! akan mengupas perjalanan karier keempat bintang cantik tersebut menuju apa yang benar-benar mereka senangi, yaitu menjadi entertainer yang menginspirasi. Simak perjalanan karier dan beberapa tips yang dibagikan untuk bisa meraih mimpi dan sampai pada tujuan yang sesuai minat dan bakat. Untuk membaca artikel selengkapnya, silahkan berlangganan majalah Network lewat tautan berikut ini: https://mncvision.id/network-magazine

 

Wawancara Eksklusif dengan Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie

Kebahagian yang terpancar di wajah pasangan selebriti Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie adalah bukti dari keharmonisan keluarga kecil mereka bersama sang buah hati, Nastusha Olivia Alinskie.

Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie seolah hidup dalam kisah cinta yang didambakan banyak orang: bertemu karena hal yang sama-sama disukai (film dan syuting), saling jatuh cinta, menikah, memiliki anak yang menggemaskan, lalu berbahagia dan saling menjaga sampai sekarang bahkan setelah lebih dari 10 tahun bersama tanpa kehilangan keromantisan mereka. Tidak heran jika pasangan ini menjadi salah satu relationship goals bagi para pasangan muda lainnya, terutama bagi para penggemar.

Saat dipasangkan dalam sinetron Buku Harian Nayla pada tahun 2006 silam, banyak yang sudah menganggap mereka merupakan pasangan yang cocok. Siapa sangka ketika akhirnya di dunia nyata mereka betul-betul bersama sebagai pasangan? Setelah sekitar delapan tahun menjadi sepasang kekasih, cinta mereka resmi disatukan pada pernikahan di tahun 2015 dan kini telah dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik.

Melihat anak bahagia, keluarga yang harmonis, dan mempunyai banyak waktu untuk orang-orang terkasih adalah jawaban Chelsea Olivia untuk tiga hal yang paling membuatnya bahagia ketika diwawancarai oleh Network!. Kesibukan aktris cantik satu ini kini memang lebih berfokus pada perannya sebagai ibu rumah tangga sejak kelahiran sang buah hati pada September tahun 2016. Tidak hanya Chelsea, Glenn Alinskie pun sedang tidak terlalu ingin menampakkan dirinya di dunia hiburan.

Para penggemar yang sudah tidak sabar menantikan kehadiran mereka kembali bermain sinetron harus bersabar karena Chelsea dan Glenn pun masih belum tahu kapan bisa meluangkan waktu untuk itu.

“Ada perasaan rindu untuk syuting, tapi tidak bisa karena memang anak kami masih kecil dan dia butuh kami. Jadi prioritas kami, ya untuk anak. Bisnis kami pun sudah banyak menyita waktu kami di luar kota, jadi sekarang kami memilih cuti dulu di dunia entertainment sampai waktu yang belum ditentukan,” ujar Chelsea ketika ditanyai mengenai membatasi pekerjaan di dunia hiburan.

Selain fokus pada anak, Chelsea dan Glenn memang sedang senang menjalani bisnis-bisnis yang mereka rintis sendiri, mulai dari bisnis kuliner seperti Rasa Lokal Indonesia, Menteri Indonesia, Lamington Pontianak,  dan Semarang Wife Cake, hingga bisnis lainnya seperti baju Alinskie Brothers, bisnis properti atau perumahan di Cirebon, bahkan bisnis game yang belum lama ini dirilis.

Chelsea mengaku jika ide dan inspirasi bisnisnya dan Glenn bisa datang dari mana saja. “Saya dan Glenn ini suka sekali dengan travelling, makan, dan lain-lain. Kami ini orangnya enggak bisa diam, jadi ya walau kami lagi jalan-jalan pasti ada saja muncul ide-ide bisnis.”

glenn alinskie

Si kecil Nastusha juga kerap kali menjadi sumber inspirasi Chelsea dan Glenn, contohnya saja bisnis game yang memuat nama sang anak; Sweet Dreams Nastusha. Berawal dari naluri orangtua yang selalu ingin menjaga dan memastikan anaknya bisa tidur dengan pulas dan nyaman, lahirlah game dengan karakter utama bayi Nastusha dan seekor gajah yang bertugas untuk menjaga tidurnya dari gangguan binatang-binatang kecil. Ada juga bisnis kue bernama Happy Nash yang menyajikan kue kekinian dengan bentuk yang mungil dan lucu, sesuai dengan karakter anak.

Simak lebih lanjut wawancara Network! dengan pasangan Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie ini dalam majalah Network! edisi bulan Desember 2018 yang bisa Anda akses di sini.

Wawancara Khusus Network! Bersama Richard Kyle

Melangkah pasti, Richard Kyle menjajaki industri hiburan di Indonesia dengan mantap dan perkembangan yang cukup pesat. Semua dengan positivitas dan perasaan bahagia yang menjadi mindset dari diri sendiri.

Bermula dari dunia modeling di Australia, Thailand dan ke Indonesia, karir pria yang akrab dipanggil Richo ini terus melesat ke pemandu acara travel, film hingga kini yang disibukkan dengan web-series dengan segala aktivitas promosi dan pengambilan gambar bersama sahabat sekaligus lawan mainnya, aktris Tara Basro. “Ada 13 episode dan sekarang masuk ke episode ke-empat,” ujarnya dalam wawancara khusus dengan Network!.

richard kyle

Sebelumnya, Richard telah membintangi sejumlah film seperti ‘Ini Kisah Tiga Dara’, ‘The Professionals’, ‘Jakarta Undercover’ hingga ‘Insya Allah Sah’. Kini di web-series yang dibintanginya, ia memerankan sosok Indra, pria kaya dari keluarga sosialita ternama. Bagi Richard yang terkenal ramah dan pecinta alam dan satwa, mendalami peran memerlukan pembelajaran dan riset dari kehidupan nyata. Ia pun mengamati bagaimana para sosialita Indonesia menjalani hidup, menghadiri pesta dan apa yang dibahas hingga hal sedetail cara menjabat tangan dan memulai pembicaraan bahkan pergi meninggalkan acara.

Richo mengaku tidak pernah mengikuti kelas akting secara khusus untuk menjadi aktor, hanya semasa kecil ia sempat mengikuti beberapa kelas teater dan drama kelas. Jurusan sekolah yang diambilnya pun lebih fokus kepada produksi film yang notabene di belakang layar. “Kalau tahu sekarang akan menekuni dunia akting, mungkin dulu di Melbourne University akan ambil jurusan akting,” ujar pria yang juga dikenal sebagai kekasih dari aktris Jessica Iskandar (Jedar) ini. Pendalaman akting kini ia justru dapatkan dari teman-teman yang memang sudah lebih dahulu terjun di industri hingga menjadikan pengalaman kerja sebagai guru terbaik.

richard kyle

Passion di dunia hiburan tidak membuat Richo mengkotakkan diri; memulai karir sebagai model sejak 16 tahun, jadi presenter atau aktor. Ia menganggap kesempatan bekerja secara total di berbagai lingkup memberikan pengalaman yang nyata. “Sama seperti akting, itu sudah ada di dalam diri, orang bisa melihat emosi dan perasaan yang nyata saat melakukannya ditunjang dengan proses mengembangkan diri untuk mendapatkan ‘feel’ yang tepat. Kekurangan pun masih terasa saat dirinya harus membawa acara dalam bahasa Indonesia karena terasa logat yang masih kaku, namun ia terus berusaha melancarkannya.

Semakin mantap berkarir di Indonesia, ia bersyukur bisa merasakan semua jenis pekerjaan yang diterima dan menjadikannya lebih matang untuk pekerjaan berikutnya di masa depan. “Ini adalah pengalaman yang mengubah hidupku.” Terlebih dengan industri hiburan Indonesia yang semakin berkembang. “Hiburan semakin banyak seiring kemajuan teknologi. Semua orang bisa menciptakan konten sendiri untuk menghibur orang lain. Untuk layar lebar juga terus berkembang, karena kita bisa lihat selalu ada film baru yang bermunculan dan mengangkat hal-hal baru. Kita masih berevolusi, harus tetap melakukan yang terbaik dan bangga dengan produksi negeri sendiri,” ujarnya antusias.

 

Baca lanjutan wawancara khusus Richard Kyle seputar kehidupan, karier, dan hobi travelling-nya di cover story majalah Network! edisi November 2018 yang bisa diakses di:

https://mncvision.id/network-magazine