Keseimbangan Hidup Bagi Mike Lewis

Bagi Mike Lewis, kehidupan kini semuanya tentang keseimbangan. Antara selalu ada untuk putranya, melanjutkan aspirasi bisnis keuangannya di Singapura, juga menjaga kehadirannya di industri hiburan Indonesia sambil menunggu sebuah peran film yang cocok.

Mike Sebagai Seorang Entertainer

15 tahun berkiprah di industri hiburan Indonesia, Mike Lewis dikenal sebagai seorang entertainer berkebangsaan asing yang wajahnya kerap menghiasi layar lebar maupun layar kaca. Meskipun demikian, tidak semua orang mengetahui perjalanan karier pria tampan satu ini, kesenangannya dengan buku dan kata-kata, juga kesehariannya yang penuh cinta untuk sang buah hati.

Mike Lewis pertama kali memasuki dunia hiburan pada saat dirinya berumur 13 tahun. Permulaannya sebagai model sudah membuat Mike menyambangi berbagai negara seperti Bangkok, New York, Montreal, Hong Kong, hingga Beijing. Mike akhirnya tinggal di Jakarta bersama keluarga setelah ayahnya yang bekerja di kedutaan ditugaskan di sini. Mike pun melanjutkan passionnya sebagai model di Jakarta di sela-sela kesibukannya berkuliah di negara asal, Kanada.

Aktor berdarah Kanada-Malaysia ini mengaku jatuh cinta dengan Indonesia sejak pertama kali menginjakkan kaki. Bagi Mike, kebudayaan yang hangat dan makanan yang lezat adalah daya tarik utama Indonesia. Jakarta adalah kota yang besar dan begitu hidup, banyak hal yang “ajaib” dan bisa dieksplorasi di sini. Misalnya saja budaya “oleh-oleh” yang sempat mengejutkan Mike karena dirinya merasa berubah menjadi Santa Claus setiap kali pergi jauh dan kembali lagi ke Indonesia dengan membeli oleh-oleh.

Dewi Fortuna mulai benar-benar memihak Mike Lewis pada tahun 2006 ketika dia mendapatkan peran di film horor lokal berjudul Suster Ngesot dan mendapatkan peran di sinetron Cinta Fitri setelahnya. Kesibukan Mike di dunia entertainment ini merupakan apa yang dia nikmati karena menjadi seorang entertainer, tepatnya aktor, sudah menjadi cita-cita Mike sejak kecil.

Namun ternyata, dulu Mike Lewis juga sempat memiliki cita-cita yang lain. Di antaranya yaitu menjadi seorang atlet, pemain Rugby profesional, hingga duta merek. Mike belum sempat memikirkan alternatif selain hal-hal yang disukainya itu karena dia terlalu sibuk untuk mewujudkannya. Yang sama-sama kita ketahui sekarang, salah satu cita-cita Mike itu telah terwujud.

Belum lama kemarin, Mike Lewis bahkan turut menyukseskan salah satu film aksi Indonesia yang gemilang berjudul FOXTROT SIX. Pembuatan film yang kurang lebih mengalami proses kreatif selama 7 tahun ini adalah satu dari sekian film yang paling berkesan di hati Mike selama jejak kariernya. Bagi Mike, FOXTROT SIX bukan sekadar film; ia adalah rumah bagi keluarga baru yang terdiri dari teman-temannya. Oleh karena itu lah Mike berharap banyak orang dapat menjadi saksi untuk hasil produksi film aksi lokal terbaik ini.

Mike Lewis mengakui jika dirinya memang paling menyukai film bergenre aksi. Kesenangannya membuat orang lain tertawa juga membuatnya berpikir bahwa mendapatkan peran di film yang memadukan genre aksi dan komedi akan menjadi sebuah mimpi yang ingin dia wujudkan suatu hari nanti.

Mike pun merasa bersyukur akan kesanggupannya bertahan di dunia hiburan untuk waktu yang lama walaupun cobaan kian datang menerpa. Dunia entertainment di Indonesia yang banyak mengalami perubahan, menurut kacamata Mike Lewis, juga mengarah pada banyak hal positif jika dilihat dari semakin banyaknya film-film lokal berkualitas yang dibuat dan meningkatnya minat masyarakat terhadap film.

Kini, sembari menunggu judul film yang benar-benar cocok dengannya, Mike Lewis tengah sibuk menjadi host di CNA Asia; sebuah program dokumenter traveling mewah yang juga telah membawanya menjelajah ke banyak tempat di dunia. Program ini juga dijalaninya dengan penuh suka cita lantaran membuatnya bisa menunjukkan kepribadian dirinya yang belum banyak diketahui orang: ketertarikannya pada makanan, kreativitasnya membuat konten, kata-kata, juga pribadi hangat Mike Lewis sebagai seorang ayah.

Mike Sebagai Seorang Ayah

Menjadi seorang bintang sudah pasti memberikan kesibukan yang lebih. Namun bagi Mike, hal tersebut bukanlah alasan untuk tidak memberikan perhatian penuh pada putra tercintanya. Delapan tahun ini benar-benar dimanfaatkan Mike Lewis untuk menikmati waktunya sebagai seorang ayah walaupun kesibukan kerap memisahkan mereka.

Ketika ditanya mengenai harapannya pada sang buah hati, Mike hanya ingin anaknya bisa benar-benar menikmati masa kanak-kanak dan tidak terlibat dalam masalah-masalah orang dewasa sebelum waktunya. Mike tidak ingin anaknya sudah disibukkan dengan dunia pekerjaan seperti syuting di usia sebelia ini. Ini adalah waktu sang anak tumbuh dan berkembang dengan baik, dikelilingi orang-orang yang mencintainya.

Membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga bisa dibilang cukup sulit, tapi Mike sudah dan akan terus melakukan yang terbaik yang dia bisa. Apalagi dengan canggihnya teknologi yang ada saat ini, Mike bisa “meraih” anaknya kapan pun dan dimana pun dia mau meskipun menghabiskan waktu liburan bersama anak tetap merupakan yang terbaik.

Tempat liburan favorit Mike Lewis adalah kepulauan Maladewa. Mike berharap suatu saat bisa kembali lagi ke sana atau mengunjungi tempat lain yang sangat ingin dikunjunginya seperti Istanbul dan Cape Town. Budaya, sejarah, dan keindahan kedua tempat tersebut adalah alasan utama Mike sangat ingin pergi ke tempat-tempat ini bersama orang yang dia cintai.

Selain berlibur bersama anak, membaca dan menulis buku juga merupakan apa yang disenangi Mike Lewis. Sejak kecil dirinya memang suka membaca, buku favoritnya adalah Gates of Fire karya Steven Pressfield. Kini, bacaannya lebih banyak diisi oleh buku-buku non fiksi seperti buku psikologi modern karya Malcolm Gladwell atau Jordan Peterson. Mike bahkan juga menyukai dunia tulis-menulis. Tulisan Mike mencakup segala hal yang terjadi di kehidupannya. Mike beranggapan bahwa tulisan adalah salah satu media terbaik untuknya berbagi kenangan bersama sang buah hati—terutama jika putranya membaca tulisan-tulisan Mike saat ia besar nanti.

Sebagai tambahan, sesuatu yang mungkin tidak dikira banyak orang adalah hobi memasak Mike untuk orang-orang yang dia cintai. Di keluarga, ini adalah salah satu cara ibunya menunjukkan cinta, dan Mike ingin menunjukkan itu pada putranya.

Bagaimanapun, benar-benar meluangkan waktu untuk anak adalah apa yang sangat disarankan oleh Mike Lewis pada para ayah atau orangtua di luar sana.

“Kalau kamu punya waktu untuk anak-anakmu, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya. Waktu kebersamaan itu berharga untukmu dan anakmu. Saya berharap bisa punya lebih banyak waktu.”

Cover Story Mike Lewis dan bintang-bintang beken lainnya ini bisa Anda simak secara lebih eksklusif di majalah Network! yang bisa Anda unduh di sini.

Dua yang Menjadi Satu

Ketika dua orang yang berbakat dan mempunyai passion yang sama bergabung jadi satu, hasilnya adalah perpaduan yang unggul dan menarik perhatian. Hal itulah yang terjadi pada Iqbal dan Yandi dalam band mereka yang diberi nama “Dua Drum”.

Penggabungan drummer seperti yang dilakukan oleh Dua Drum ini adalah sesuatu yang unik dan baru. Diprakarsai oleh personilnya sendiri, Iqbal dan Yandi, Dua Drum sudah berdiri sejak tahun 2014 dan mengeluarkan album pertama mereka, Bergerak, pada tahun 2016.

Yoiqbal dan Yandi Andaputra atau yang lebih akrab dipanggil Iqbal dan Yandi ini memang sudah jatuh cinta dan berkutat dengan alat musik drum sejak mereka kecil; Iqbal sejak dia berumur 4 tahun, dan Yandi sejak dia berumur 6 tahun. Keduanya memang terlahir dari keluarga yang menikmati musik dan sangat mendukung ketertarikan mereka akan musik. Dimulai dari berlatih dengan para ahli hingga akhirnya memperoleh berbagai pengalaman manggung yang membuat mereka semakin lihai menabuh alat musik favorit mereka ini.

Saking cintanya dengan drum, Iqbal bahkan mengaku tidak pernah terbesit cita-cita lain selain profesi yang digelutinya ini. Di sisi lain, cita-cita Yandi selain menjadi drummer juga tidak jauh dari dunia musik, yaitu menjadi seorang produser untuk penyanyi-penyanyi atau band.

Seakan menyetujui cita-cita terdalam mereka, semesta pun akhirnya mempertemukan Iqbal dan Yandi–rumah mereka bertetangga setelah Iqbal pindah dari Kalimantan ke Jakarta. Bertemu di sebuah acara dan sering main bareng menciptakan “chemistry” pada mereka hingga tercetuslah ide untuk membuat sebuah band bersama dengan konsep yang unik yaitu Dua Drum.

Sebelum bergabung menjadi satu, Iqbal sudah berkarier menjadi drummer profesional dengan musisi-musisi profesional lainnya seperti Iwan Fals, Afghan, Geisha, dan lain-lain. Sementara Yandi disebutkan pernah berkolaborasi dengan Kunto Aji, Isyana Sarasvati, juga Dewa Budjana. Mereka sudah bermain di panggung-panggung besar seperti Java Jazz Festival dan Jakarta International Blues Festival.

Album musik Dua Drum pun terdiri dari lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri dengan dibantu oleh musisi-musisi lainnya. Dua Drum yang kini masih sibuk manggung pun mengungkapkan melalui karya bagaimana mereka sangat mencintai apa yang mereka lakukan ini: tumbuh dan berkembang bersama alat musik favorit sendiri. Iqbal dan Yandi ingin menunjukkan pada drummer-drummer lainnya bahwa “main drum itu tidak harus di belakang, tapi juga bisa di depan dengan membuat suatu karya yang bisa didengar banyak orang.”

Simak profil menarik dan eksklusif lainnya di majalah Network! yang bisa Anda akses di sini.

Joko Pinurbo – Penggubah Kata

Sebagai seorang penyair terkemuka Indonesia, karya-karya Joko Pinurbo sudah lama melanglang di seantero negeri dan dihayati oleh para pecinta sastra. Belum lama ini, Joko Pinurbo pun kembali menerbitkan karya. Kali ini dalam bentuk novel, bukan syair seperti biasa.

Syair-syair gubahan Joko Pinurbo adalah bentuk dari kekayaan literasi Indonesia. Dia berhasil menciptakan karya dengan keunikan sendiri, yakni konsep jenaka dan hal-hal kecil yang ajaibnya bisa dibuat puitis oleh penyair satu ini.

Joko Pinurbo mengaku sudah menyukai puisi sejak dia masih sekolah, tepatnya di kelas satu sekolah menengah atas. Dimulai dari kesenangan membaca hingga terbesit keinginan untuk mencipta karya juga. Karya Joko Pinurbo pertama kali terbit pada tahun 1999. Karya tersebut berupa buku kumpulan puisi bertajuk “Celana”. Kemunculannya lantas memberikan angin segar di dunia sastra Indonesia dengan khas jenaka, gaya naratif, dan pengangkatan objek-objek yang belum pernah ditulis oleh penyair-penyair sebelumnya.

Kegemilangan Joko Pinurbo atau yang sering dipanggil Jokpin ini bukan tanpa kerikil dan cobaan. Ia bahkan pernah membakar seluruh karyanya yang terdahulu lantaran beberapa kali ditolak oleh penerbit, sebelum kemudian dia bangkit dengan kemunculan yang begitu mengundang decak kagum.

Kali ini, Joko Pinurbo kembali membuat penikmat literasi terpukau dengan Srimenanti–karyanya dalam wujud novel yang pertama. Ketika ditanya mengenai tanggapannya mengenai proses mencipta karya yang beralih dari puisi ke novel, Jokpin mengaku bahwa meskipun terasa lebih sulit, proses pengerjaannya juga merupakan sesuatu yang dia nikmati.

Joko Pinurbo mengatakan bahwa karya dalam bentuk cerita seperti novel ini bisa membuatnya menyampaikan pesan atau maksud ke pembaca secara lebih leluasa dibandingkan puisi. Untuk selanjutnya, Jokpin pun ingin menciptakan novel lagi–kali ini yang lebih tebal dari Srimenanti.

Baca ulasan profil menarik lainnya di majalah Network! yang kini bisa Anda unduh di sini.

Gaya Berbusana Chris Hemsworth

Dunia semakin mengenalnya setelah memerankan sosok dewa petir Thor dalam film-film Marvel. Lahir di Melbourne, Australia pada tanggal 11 Agustus 1983, Chris berhasil menaklukkan Hollywood dan membintangi banyak film-film Box Office. Semua berawal di tahun 2002 saat dia mulai terlibat dalam sinetron lokal di Australia. Suami dari aktris Spanyol Elsa Pataky ini selalu tampil necis di karpet merah dengan setelan jas pas badan dan kemeja putih yang elegan. Di kala senggang, dia tetap tampil maskulin dengan celana denim dan sepatu boots yang sesekali ditumpuk dengan jaket dan t-shirt polos. Di bulan ini, film terbarunya, Men In Black: International pun tayang. Memiliki tiga anak, Chris juga dikenal aktif dalam aktivitas sosial tergabung dalam Australian Children Foundation.

Inspirasi Gaya Sophie Turner

Aktris Inggris kelahiran 21 Februari 1996 ini memulai debutnya di dunia entertainment sebagai Sansa Stark di serial TV Game of Thrones sejak 2011. Dia juga merambah dunia film dengan terpilih menjadi sosok Jean Grey/Phoenix yang filmnya akan tayang bulan ini, Dark Phoenix. Tunangan dari musisi Joe Jonas ini kerap menampilkan gaya Hollywood klasik seperti gaun sensual dengan tatanan rambut dan riasan yang khas. Sedangkan untuk keseharian, dia terbilang sangat cuek dengan kaos rocker, jeans ketat dan sepatu boots khas penyanyi rock. Sempat menderita depresi akut karena sering dikritik akan kualitas aktingnya, dia sempat menghilang dari industri perfilman sejak bulan April lalu.

Dewi Sandra, Proses Hijrah yang Tiada Henti

Bagi seorang Dewi Sandra, segala hal di dunia ini bisa menjadi alat komunikasi Sang Pencipta kepada umat-Nya. Semuanya merupakan inspirasi yang menuntun Dewi untuk meraih segala yang terbaik dalam kehidupan, di dunia maupun di akhirat.

Indonesia mengenal Dewi Sandra sebagai seorang artis yang berbakat, entah itu dalam seni peran, seni suara, hingga mempresentasikan sebuah acara. Jika mengikuti perkembangan karier wanita ini sejak awal, Anda pasti setuju jika penampilan Dewi saat ini bisa dibilang sangat berbeda dengan dirinya pada masa lalu.

Dewi Sandra mungkin adalah seseorang yang akan membantah jika Anda mengatakan dia “sudah” berhijrah, karena dirinya belum selesai melakukan hijrah. Manusia pada hakikatnya harus terus tumbuh dan belajar untuk membuat diri menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itulah bagi Dewi hijrah merupakan sebuah proses yang tiada henti. Namun, proses mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa ini merupakan sesuatu yang Dewi nikmati.

Salah satu wujud nyata yang paling menginspirasi Dewi Sandra dalam hidupnya adalah ketika dia bermain dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa, seperti ketika dia menemukan sebuah lukisan Bunda Maria di Museum Louvre, Paris yang di bawahnya terdapat tulisan Arab kecil yang menyebut nama Allah. Selain itu, perjalanannya ke Spanyol belum lama ini juga memberikan beberapa wawasan baru soal sejarah islam yang membuat Dewi tergerak untuk melihat sesuatu dari kacamata yang lebih luas lagi.

Kehadiran suami yang juga sangat menyukai kesederhanaan seperti halnya Dewi Sandra juga merupakan apa yang Dewi syukuri. Misalnya saja dengan kurma atau buah-buahan yang lebih mereka pilih sebagai menu sahur di bulan Ramadan. Menu buka puasa pun juga seadanya saja. Dewi yang sebenarnya lebih suka memasak makanan ala Barat yang simpel dan suaminya yang lebih menyukai cita rasa masakan Indonesia seperti Sayur Asem dan Jengkol pun berhasil menyelaraskan selera dan harmonis sebagai pasangan.

Kegiatan pengisi waktu senggang versi Dewi Sandra kini adalah membaca, terutama membaca Al-Quran yang selalu berhasil memberikannya rasa takjub dan ketenangan. Semua yang membentuk dirinya kini, ungkap Dewi, tentu tidak bisa dilepaskan dari karier di dunia entertainment yang telah memberikan banyak pelajaran hidup dengan praktek langsung–terlepas dari buku pelajaran.

Simak Cover Story edisi bulan Mei kami selengkapnya di E-Magazine yang bisa Anda unduh di sini.

Kecintaan Akan Musik

Bisa bernyanyi, memainkan beragam alat musik, menciptakan lagu, hingga melatih vokal adalah bukti kecintaan pria satu ini pada musik. Dirinya bahkan sudah berkecimpung di dunia yang penuh dengan lantunan nada sejak dirinya bisa mengingat.

Indra Aziz pertama kali jatuh cinta pada musik saat kecil. Mendiang ibunya yang suka bernyanyi dalam beragam kesempatan dan ayahnya yang kerap kali membelikan instrumen musik untuk dia mainkanlah yang kurang lebih berperan di sini. Tapi, meskipun sempat berkutat dengan drum, gitar, kibor, hingga basis, vokal lah yang paling dia sukai dan menjadi keahliannya. “Alat” musik ini menurutnya adalah yang paling erat dengan story telling sehingga dia merasa lebih bisa berekspresi dengan suara dibanding alat musik yang lain.

Meskipun demikian, Indra Aziz juga mengaku akrab dengan alat musik saksofon yang dia mainkan sejak tahun 1998. Dalam ceritanya pada majalah Network!, alat musik ini membuatnya mendapatkan wawasan musik yang lebih luas dan relasi yang lebih besar. Selain itu, alat musik ini juga mirip dengan suara yaitu sama-sama menggunakan napas.

Berbicara tentang Indra Aziz tidak bisa lepas dari kegemarannya akan musik Jazz. Meskipun awalnya mengaku pusing dan tidak suka dengan genre musik ini, Indra Aziz sudah berbalik jatuh cinta berkat cool jazz yang diperkenalkan oleh temannya. Bagi Indra, Jazz memiliki begitu banyak aspek yang bisa didalami dan membuat moodnya lebih baik setiap kali mendengarkannya. Jazz juga bisa menjadi “playground” yang sangat baik bagi para musisi karena membangun kolaborasi yang kuat.

Albumnya yang akhir tahun lalu debut juga berisikan lagu jazz yang Indra Aziz nyanyikan dan ciptakan sendiri dengan hati. Ketika ditanya mengapa tidak mengawali kariernya dengan terjun langsung ke dunia tarik suara, Indra Aziz mengatakan kalau sejak awal dia memang suka melatih vokal. Layaknya sutradara dengan pemain film, profesi di balik layar seperti vocal coach dan penyanyi di panggung atau rekaman pun tidak bisa disamakan.

Keasyikannya melatih vokal terlihat dari kepiawaiannya dalam mengedukasi murid-murid yang sudah akrab dengan masyarakat seperti Rossa, Afghan, para finalis Indonesian Idol, dan masih banyak lagi. Caranya membantu mereka yang berlatih bersamanya dalam “mengakali” kelemahan bernyanyi masing-masing adalah dengan fokus pada kelebihan hingga mereka terbiasa dan termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Sementara untuk menciptakan lagu bagus, Indra mengatakan bahwa modal utama terletak pada konsep cerita. Semua yang ingin diceritakan dari lagu itulah yang kemudian bisa dikembangkan menjadi suatu karya musik yang memiliki koneksi dengan pendengarnya. Khusus untuk albumnya, makna “jangan takut salah atau takut mencoba” pun dia sampaikan.

Hal terkeren yang patut menjadi inspirasi dari Indra Aziz adalah fakta bahwa meskipun berkecimpung di dunia musik, dirinya juga ahli dalam bidang lain seperti programming (membuat game dan aplikasi), seni peran (beberapa kali menjadi pemeran dalam acara televisi), hingga menulis. Pemusik yang mengaku memfavoritkan Indra Lesmana ini mengungkapkan bahwa dirinya sudah menyiapkan naskah buku belajar vokal yang dia harap akan rilis tahun ini bersama dengan materi audionya juga.

Simak ulasan profil-profil menarik lainnya dalam Network! E-Magazine yang bisa Anda unduh di sini.

Miller Khan, Perjalanan Karier yang Menyenangkan

Peruntungan Miller Khan di dunia seni peran dimulai pada tahun 2006. Kedatangannya di Indonesia untuk memenuhi tawaran casting menjadi bintang iklan mie instan pada tahun itu adalah awal dari keberhasilan yang kemudian juga turut menghantarkan Miller pada tawaran-tawaran lain di dunia entertainment yang telah membesarkan namanya seperti sekarang.

Pada saat Miller menghadiri acara peluncuran iklan mie instannya itu, dia bertemu dengan Melly Goeslaw yang sedang mencari talent baru untuk film BBB (Bukan Bintang Biasa). Di sinilah perjalanan karier seni peran Miller di Indonesia dimulai, nama Miller Khan mulai dikenal setelah dia memainkan film ini dan film Cintapuccino yang bergenre romansa pada tahun yang sama (2007). Setelah itu, Miller juga kerap membintangi beberapa film dan sinetron Indonesia seperti Cinta dan Anugerah dan Kau yang Berasal dari Bintang.

Belakangan ini, Miller sedang sibuk mempromosikan film terbarunya di Indonesia yang bertajuk Foxtrot Six dan juga film Hide & Seek Minako yang baru tayang di Malaysia. Foxtrot Six merupakan sebuah film aksi yang bercerita tentang sekelompok orang yang berjuang menyelamatkan kondisi Indonesia di masa mendatang yang terancam. Di sini, akting Miller akan bersanding dengan Julie Estelle, Rio Dewanto, Arifin Putra, Chicko Jerikho dan sederet bintang film Indonesia lainnya. Sementara itu, Hide & Seek Minako (Petak Umpet Minako) merupakan film bergenre horor lokal yang sebenarnya sudah diproduksi sejak dua tahun lalu dan baru merambah ke negara tetangga yang merupakan kampung halaman Miller sendiri tahun ini. Selain sibuk mempromosikan filmnya, Miller juga mengungkapkan bahwa dia sedang sibuk untuk persiapan syuting film berikutnya yang judulnya masih dirahasiakan.

Simak pembahasan mengenai pengalaman seru Miller ketika remaja hingga perasaan Miller pada kampung halamannya, Malaysia, selama dia berkarier di Indonesia yang diceritakan Miller sendiri pada majalah Network! hanya di edisi April kami yang bisa Anda akses di sini.

Murni Ridha dan Kesenangannya Berpetualang

Salah satu kunci menciptakan suasana perjalanan terasa lebih menyenangkan, mengutip dari Murni Ridha, adalah berpikiran terbuka. “Kalau berpikiran terbuka, semua jadi terlihat relatif dan bisa dipahami. Kalau bisa dipahami, kita jadi lebih santai dan banyak hal akan terasa menyenangkan.”

Seorang perempuan kelahiran kota Bandung yang begitu cinta berpetualang, Murni Ridha, atau yang akrab dipanggil Mumun ini dengan senang hati menunjukkan pada dunia akan kesenangannya mengeksplorasi berbagai tempat melalui tulisan-tulisannya.

Dari hobi menjelajah tempat-tempat baru dan ketertarikan untuk meramaikan dunia menulis blog bertema wisata di Indonesia, wanita yang juga gemar membaca ini menceburkan diri ke dalam tulisan jalan-jalan. Dia dan teman-temannya tergagas untuk membuat blog Indohoy.com karena melihat situs wisata di Indonesia yang pada saat itu masih sangat terbatas. Blog yang pada awalnya diurus oleh tujuh orang itu pun terus eksis dan kini menjadi salah satu jendela keindahan berbagai tempat wisata, walau akhirnya hanya tersisa dua orang penulis tetap yang tidak lain dan tidak bukan termasuk Murni Ridha sendiri.

Bertahun-tahun konsisten menggeluti dunia menulis tentu bukan tanpa alasan. Ketika ditanya pengalaman paling seru selama melakukan perjalanan, Murni Ridha menolak untuk menjawabnya lantaran setiap pengalaman yang dia dapat di perjalanan menurutnya adalah seru, bahkan hal yang dianggap membosankan sekalipun. Dia mengungkapkan bahwa berkeliling ke banyak tempat selalu berhasil mengajarkannya banyak hal yang berguna dalam hidup, seperti bagaimana caranya berurusan dengan berbagai macam karakter orang.

Kasus yang belum lama dialaminya ketika berurusan dengan orang luar karena perbedaan budaya dan bahasa adalah ketika dia berkunjung ke Maroko; dia dan temannya sempat miskomunikasi dengan petugas tiket bus dan di situlah dia belajar bagaimana seorang pendatang harus menyimak kebiasaan masyarakat lokal.

Wanita lulusan ITB ini juga mengungkapkan bahwa menjadi penulis travel tidaklah seglamor kelihatannya. Harus ada “kerja lebih” ketika orang-orang lain fokus pada liburannya. Walaupun begitu, profesi yang merupakan pekerjaan sampingannya ini adalah sesuatu yang tidak akan dilepaskannya.

Sementara itu, terlepas dari hasil karyanya, Murni Ridha tetap tidak ingin mengatakan dirinya seorang penulis. Dia hanya senang berbagi berbagai pengalamannya yang kebetulan menggunakan media tulisan. Adalah sebuah tantangan lebih untuk menjadikan penulis travel sebagai pekerjaan utama, tapi hal ini sudah mulai dirintis dan dia berharap semesta mempercayakan hal itu padanya.

Tities Sapoetra dan Mimpinya yang Terwujud

Bagi Tities, salah satu kesenangan dalam hidup adalah perjalanan meraih mimpi. Hal itu terlihat dari rasa syukur Tities terhadap pencapaiannya sendiri ketika mengenang perjalanannya, juga kebahagiaan yang terpancar karena melakukan apa yang memang disukainya.

Tities Sapoetra sejak kecil sudah menyukai hiruk pikuk dunia hiburan dan bercita-cita menjadi bintang. Tidak heran jika Tities sudah menjadi model sejak dia berumur 5 tahun. Dari minatnya tersebut, tidak salah pula jika Tities mengerahkan segala yang dia bisa untuk mengarahkan kakinya pada jalan hidup itu, yaitu dengan mengikuti berbagai macam casting, pemilihan cover boy majalah, dan sebagainya.

Menjadi seorang entertainer bagaimanapun merupakan bagian dari hidup Tities yang tidak bisa dipisahkan dari dirinya meskipun sekarang dia sudah banting setir dari dunia entertainment ke dunia fashion. Faktanya, menjadi seorang desainer juga merupakan cita-cita Tities sejak dulu.

Minat Tities terhadap dunia fashion ini menurun dari ibunya sendiri yang memang merupakan seorang perancang baju pengantin. Tidak hanya minat, bakatnya pun ternyata menurun. Kini, Tities telah memiliki tiga label busana yang kesemuanya merupakan karya sendiri. Tities juga menunjukkan prestasinya pada dunia dengan terpilihnya dia oleh Nickelodeon untuk menjadi desainer pertama yang merancang fashion Spongebob Gold untuk runway di Asia yang pertama kalinya.

Saat ini perhatian Tities telah sepenuhnya tercurah pada kariernya sebagai seorang desainer. Ketika ada permintaan untuk syuting atau penawaran lainnya, Tities pun sudah sangat selektif dengan hanya menerima yang berhubungan dengan dunia mode. Jika disuruh memilih, kariernya di dunia mode ini memang yang paling membuatnya nyaman karena Tities mengaku bisa mendapatkan waktu lebih untuk keluarga dan me time.

Meskipun demikian, Tities tetap mencintai kedua jenis profesi yang sempat dan sedang digelutinya ini, terutama karena di situ dia bisa bertemu dengan banyak orang yang membantunya memahami macam-macam karakter, dan dari situ pula karakter Tities yang menyenangkan tersalurkan.

Tities mengungkapkan jika menciptakan suasana yang menyenangkan bisa dilakukan dengan berkumpul dengan teman-teman, hal itu menurutnya adalah hiburan di tengah kepenatan yang bisa menjaga moodnya untuk tetap baik.